Selasa, 25 November 2014

Positif "Nada untuk Asa"

Lagi hamil 7 bulan, tiba-tiba Ibu Mertua nitip buku Positif "Nada untuk Asa" ini ke suamiku. "Disuruh Ibu baca ini". Waks... sekilas baca sinopsisnya dari Majalah Hidup, isi buku ini kan sedih ya. Semoga ga bikin aku pake gelung-gelung atau sesegukan nangis deh, takut debay terpengaruh. :D

Buku ini ditulis berdasarkan skenario/skrip sebuah film/pementasan. Oke, aku jadi lebih siap mental saat harus membaca detil-detil perasaan, gerakan dan emosi yang ditulis Ita Sembiring pada buku ini. Tapi ternyata aku ga sesabar itu, akhirnya cuma baca kalimat awal paragraf untuk tahu perkembangan cerita dan loncat ke kalimat-kalimat ucapan para tokohnya. Hihihi... terlalu lambat euy! Aku bosan baca buku ini! Untungnya tipis, sehingga 2 hari aja udah selesai baca walau pake jeda cukup lama demi mengembalikan mood baca demi menyelesaikan buku ini. :P

Inti ceritanya gini: seorang istri yang bernama Nada, sudah punya 3 anak. Yang paling kecil masih beberapa bulan usianya. Suaminya baru saja meninggal karena sakit kanker getah bening. Gita, adik ipar Nada, memaksa Nada untuk cek HIV ke dokter. Loh kenapa? Karena Gita curiga Bobby kakaknya, suami Nada, sakit dipicu oleh virus HIV yang membuat badannya lemah dan tak kuasa melawan kanker tersebut. Dan ternyata benar, Nada pun sekarang tertular virus HIV bawaan suaminya, bahkan Asa bayi mereka pun juga positif HIV.

Keluarga suaminya merasa bersalah & tetap bisa menerima Nada sebagai bagian dari keluarga, tapi malah keluarga Nada yang menolak kehadiran Nada. Bersama dengan perlakuan orang lain di sekitar Nada, semua jadi takut tertular setiap ada Nada di dekat mereka. Kasian sih, kaya diasingkan gitu. Nada sempet down banget, tapi Gita berhasil memulihkan semangat hidup Gita, karena masih ada 2 anak yang tidak tertular dan perlu kasih sayang Gita juga selain Asa.

Udah gede, Asa juga mendapat perlakuan seperti Nada. Ia dipecat kantornya saat orang-orang mengetahui bahwa dirinya pengidap AIDS. Asa santai, udah terlalu biasa menerima sikap seperti itu. Tapi ia mulai gelisah saat ia benar-benar jatuh cinta pada seorang pria, terlebih saat pria itu juga mencintainya. Setelah olah perasaan panjang, akhirnya pasangan ini happy ending sih, soalnya tu cowok adalah aktivis yang peduli pada martabat penderita AIDS, dan tahu bagaimana agar dirinya tak tertular. Nada & kedua kakak cowoknya Asa pun lega mengetahui bahwa cinta kedua pasangan itu sejati. Bapaknya Nada yang melihat di kejauhan pun malu karena dirinya tak seberani pacar Asa itu.

Aku salut sama Nada karena bisa tetap membesarkan ketiga anaknya dan tidak menceritakan aib Bobby yang ternyata sempat berselingkuh dengan Susan rekan kuliahnya, sehingga mewarisi virus HIV pada dua anggota keluarga itu. Tapi sebel sama Susan yang tetap berani menampakkan diri di depan Nada setiap kali mereka bertemu di kuburan. Mendingan menghilang aja deh, San! :P

Aku penasaran sih sebenarnya siapa Ita Sembiring ini. Dengan didukung oleh Keuskupan Agung Jakarta, bukunya bisa kuanggap cukup laris di kalangan umat Katolik KAJ. Belum pernah aku baca buku-buku karangannya walau kayaknya nama ini ga asing di telingaku. Banyak teman GRI yang menyukai Ita Sembiring, tapi aku belum tertarik juga sampai saat ini.

Yah well, moral of the story dari buku ini: perlakukan ODHA seperti orang sehat biasa aja, ketahui batasannya supaya kita ga tertular. Soalnya mereka beda tapi tetap manusia kok. Gitu aja. Dan ketakutanku & bapak mertua bahwa aku akan ikut sedih baca buku ini pun tidak terbukti. :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar